Jakarta - Upaya penertiban Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) terus dilakukan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan. Sepanjang 2010 ini, sebanyak 1.205 PMKS berhasil terjaring. Angka tersebut diperkirakan masih akan meningkat hingga akhir tahun mendatang.
Data Suku Dinas Sosial, Jakarta Selatan menyebutkan dari 1.205 PMKS yang terjaring meliputi, 51 gelandangan, 97 pemulung, 71 pengemis, 38 anak jalanan, 4 PSK atau WTS, 26 waria, 64 psikotik, 55 pengamen, 4 peminta kotak amal, 1 penderita cacat, 9 pak ogah, 676 joki 3 in 1, 63 pedagang asongan, 12 pengelap mobil, 1 penderita kusta, serta lain-lain sebanyak 33 orang.
Kepala Seksi Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Ronny Cahyana, mengatakan sebanyak 1.205 PMKS yang terjaring merupakan periode Januari hingga 15 Desember. Sementara itu, ia tidak dapat memprediksi jumlah PMKS yang akan terjaring hingga akhir tahun ini. "Kita tidak dapat memprediksinya, karena keberadaan PMKS sendiri memang banyak," kata Ronny, tulis laman beritajakarta.com, Kamis (16/12).
Dikatakan Ronny, keberadaan joki 3 in 1 memang masih mendominasi PMKS yang terjadi setiap tahunnya. Jika pada tahun ini jumlah joki 3 in 1 yang terjaring sebanyak 676 orang, pada tahun sebelumnya mencapai 703 orang. "Joki 3 in 1 setiap tahunnya tetap mendominasi jumlah PMKS yang terjaring," ujarnya.
Ia menambahkan dari 10 kecamatan yang ada di Jakarta Selatan tercatat ada 5 kecamatan yang paling banyak ditemukan PMKS. Kelima kecamatan tersebut yakni, Kecamatan Kebayoranbaru, Kebayoranlama, Cilandak, Mampangprapatan, dan Kecamatan Pasarminggu. Hal itu dikarenakan kelima kecamatan tersebut paling banyak memiliki lampu lalu lintas.
"Mereka biasanya memang mangkal di sekitar perempatan yang ada lampu lalu lintasnya. Sedangkan Kecamatan Pesanggrahan dan Jagakarsa, merupakan kecamatan yang paling sedikit ditemukan PMKS," jelasnya.
