Carlos Santana atau lebih dikenal dengan nama Santana kalau tidak ada aral melintang akan hadir di Indonesia pada awal tahun 2011 yang akan datang. Tepatnya ia dijadwalkan tampil pada tanggal 4 dan 5 Maret diajang Java Jazz Festival di Jakarta. . Selain tampil di Indonesia, pada bulan Maret 2011 nanti Santana juga akan tampil di beberapa negara Asia dan Australia serta beberapa negara di sekitarnya dalam rangkaian GUITAR HEAVEN SOUTH PASIFIC-ASIA TOUR 2011.
Santana merupakan salah seorang pemusik yang namanya telah berkibar di akhir tahun 60 an -awal tahun 70an, yang energi bermain musiknya tak lekang dimakan zaman. Sama seperti halnya Eric Clapton, yang mampu merevitalisasi dirinya hingga sajian musiknya tetap kontemporer. Bagaimana bisa ?
Santana lahir pada tanggal 20 Juli 1947 di Autlán de Navarro, Jalisco, Mexico., dari keluarga yang akrab dengan musik. Pada usia lima tahun Santana belajar biola, dan pada usia delapan tahun Santana mulai tertarik pada gitar. Kecintaannya pada musik blues mulai tumbuh dan berkembang ketika ia bersama keluarganya pada tahun 1955 tinggal di Tijuana, sebuah kota di Mexico, yang letaknya berbatasan dengan California, Amerika. Ia mengenal blues lewat radio dan pemusik blues setempat. Dan ketika menjelang pertengahan tahun 60an Santana bersama keluarganya pindah ke San Fransisco., Santana membentuk band, yang diberi nama Santana Blues Band, mengikuti nama band pujaannya saat itu The Paul Butterfield Blues Band. Nama Santana mulai diperhitungkan ketika pada tahun 68 ia pribadimelakukan jammin’ dengan pemusik dari Paul Butterfield Blues Band, Jefferson Airplane dan Gratefulll Dead di Fillmore West Auditorium. Penampilannya tidak hanya menarik penonton tapi juga Bill Graham pengelola Fillmore West yang kemudian menjadi sahabat sekaligus akan menjadi mentor bagi Santana. ” Sejak penampilan saya itu grup saya laris menjadi band pembuka. Pembuka Paul Butterfield Blues Band, The Who, Janis Joplin hingga Chicago Transit Authorithy. Dan mereka yang tadinya ingin menyaksikan penampil utama akhirnya juga menjadi follower band kami.”
Santana membawakan lagu AS THE YEARS GO PASSING BY–yang dipopulerkan pertama kali oleh Albert King–di Fillmore West Auditorium San Fransisco, Desember 1968. Tahun 1973 Al Kooper dalam album solonya Naked Song membawakan juga lagu ini dan pernah sangat populer di Indonesia.
Nama Santana (band) mencuat ketika berkesempatan tampil di Woodstock Festival 1969, dengan musiknya yang khas. Perpaduan blues, rock, latin dan Afrika. Grup ini membawa timbal, Conga dan cowbell dalam ramuan musiknya, esuatu yang belum pernah terjadi dalam musik rock. ” Saya tidak mungkin bermain straight blues. Ada Eric Clapton dan Peter Green, yang tak mungkin saya lampaui. Saya harus mencari arah lain.” kata Santana. Oleh karena itu meskipun ia mengaku sangat terispirasai sekaligus mengaggumi, Mike Bloomfield, Peter Green , Eric Clapton dan ketiga KING ( BB, Albert dan Freddie), ia tak mau berhenti di situ, ia mencari wawasan lain dan ia menemukan tokoh-tokoh baru untuk menjanjadi sumber inspirasi musiknya : Django Reinhardt, Kenny Burrel dan Charlie Christian Hasilnya adalah musik Santana yang khas yang tercermin dalam tiga album pertamanya, Santana (1969), Abraxas( 1970)dan Santana III (1971) yang melambungkan nama Santana.
Salah satu hit yang melambungkan nama Santana yang termuat dalam album ABRAXAS–Black Magic Woman–karya salah satu gitaris yang dikagumi Santana, PETER GREEN
BLACK MAGIC WOMAN versi PETER GREEN’s FLEETWOOD MAC
Tiga album yang melambungkan dirinya ternyata tak membuat Santana terlena. Ia tak berhenti mencari –ia mendekat pada John Mc Laughlin–gitaris Jazz Rock yang menjelang pertengahan tahun 70 an terkenal dengan grupnya Mahavisnu Orchestra dan melalui Mc Laughlin pula Santana berkenalan dengan Sir Chinmoy guru spiritual John McLaughlin yang membuka kesadaran baru bagi Santana, Dan ketika ia menemukan musik John Coltrane, Santana menemukan bahwa musik bisa menjadi media pengembangan spiritual. Bermain musik bukan sekedar job, tapi jalan hidup. Pertengahan tahun 1970 an adalah era jazz rock khas Santana, yang menempatkan grupnya sejajar dengan gruo Weather Repport atau Return To Forever. Tapi Santana juga tidak pernah meninggalkan blues. Tahun 1989 ia bergabung dengan John Lee Hooker di album The Healer, dan tahun 2004 dipercaya untuk memilih tiga pemusik blues untuk ditampilkan di Mountreaux Jazz Festival. Ia memilih Buddy Guy, Clarence Gatemouth Brown, Bobby Parker. Tidak sekedar memilih tapi pada tiap akhir pertunjukan pemusik yang dipilihnya itu ia juga melakukan jammin’. Melalui proses perjalanan hidup dan musiknya Santana memang tak bisa dimasukan dalam satu kotak jenis musik. Jika orang ingin menjadi pemusik blues yang baik orang harus menguasi blues language, begitu juga jika ingin menjadi pemusik jazz yang baik orang harus menguasai jazz language, dan seterrusnya. Dan Santana rupanya memiliki cukup waktu dan passion untuk menguasai berbagai bahasa musik, hingga musiknya merupakan perpaduan bahasa musik yang dikuasainya,oleh karena itulah ia layak ditunggu di Festival Jazz, Rock ataupun Blues. Ia sudah mencapai tahapan empu dalam bermusik.
